Apa Itu Happy Hypoxia dan Apa Saja Gejalanya?

Apa itu happy hypoxia? Dan apakah ini berbahaya? Happy hypoxia adalah istilah yang muncul di tengah pandemi covid-19. Disini kita akan mengetahui apa itu happy hypoxia dan apa saja gejalanya.

Apa Itu Happy Hypoxia dan Apa Saja Gejalanya?
Happy Poxia dan Gejalanya

Istilah Happy Hypoxia muncul di tengah pandemi covid-19. Sejumlah pasien covid-19 di Indonesia memiliki gejala ini dan dinyatakan meninggal dunia. Itu sebabnya happy hypoxia ini perlu diwaspadai.

Pengertian Happy Hypoxia

Sebagaimana dikutip dari Medical News Today happy hypoxia adalah penurunan kadar oksigen dalam darah. Ketika kadar oksigen darah mulai berkurang, seseorang mungkin mengalami sesak napas, yang juga disebut dispnea.

Ketika kadar oksigen di dalam tubuh terus menurun, apalagi hinggal 50% lebih, ini akan menyebabkan organ-organ dalam tubuh mengalami kerusakan. Dan pada akhirnya, menyebabkan kematian.

Studi Tentang Happy Hypoxia

Dr. Martin J. Tobin - profesor kedokteran paru dan perawatan kritis di Loyola University Medical Center, di Maywood, IL. Ia mengatakan, “Dalam beberapa kasus, pasien merasa nyaman dan menggunakan telepon di saat dokter hendak memasukkan selang pernapasan [endotrakeal] dan menghubungkan pasien ke ventilator mekanis, yang, meski berpotensi menyelamatkan nyawa, memiliki risiko tersendiri.”

Studi ini melibatkan 16 pasien covid-19 dengan tingkat oksigen yang sangat rendah (lebih dari 50%; oksigen darah normal antara 95 dan 100%), tanpa sesak napas atau dispnea.

Tobin menemukan, beberapa mekanisme patofisiologis bertanggung jawab atas sebagian besar kasus happy hypoxia yang terjadi. Termasuk penilaian awal tingkat oksigen pasien dengan oksimeter.

"Faktor lainnya adalah bagaimana otak merespons tingkat oksigen yang rendah. Ketika kadar oksigen turun pada pasien dengan covid-19, otak tidak merespons sampai oksigen turun ke tingkat yang sangat rendah, di mana pasien biasanya menjadi sesak napas," ujarnya.

Tobin mengakui penelitian lebih lanjut diperlukan. Studi ini menyimpulkan, "fitur tentang COVID-19 yang menurut dokter membingungkan menjadi kurang aneh jika dilihat dari sudut prinsip fisiologi pernapasan yang telah lama ada."

Bahaya Happy Hypoxia

Pada dasarnya, corona adalah penyakit pernapasan. Itu sebabnya, dampak utamanya adalah mengurangi jumlah oksigen yang dapat diserap paru-paru. Tingkat oksigen darah ditemukan sangat rendah pada beberapa pasien covid-19.

Yang membuat hal ini berbahaya adalah, meskipun kadar oksigen dalam darah rendah, beberapa pasien tidak mengalami gejala yang berarti. Mereka masih bisa berkegiatan seperti biasa tanpa masalah. Dan tidak mengalami sesak napas.

Gejala Happy Hypoxia

Mengingat bahaya dari happy hypoxia ini, maka perlu bagi kita untuk mengetahui gejala-gejala apa saja dari happy hypoxia ini. Pada dasarnya, gejalanya sama dengan gejala covid-19. Karena memang happy hypoxia ini terjadi pada penderita corona.

Namun Happy Hypoxia pada beberapa pasien COVID-19 kadang tidak memiliki tanda dan gejala apapun. Ini yang menjadi sulit. Adanya gejala tergantung pada usia pasien, tingkat keparahan penyakit, tingkat kesehatan, dan keberadaan penyakit kronis.

Menurut buku Clinical Procedurs for Safer Patient Care, tanda awal hipoksia adalah kecemasan, kebingungan, dan kegelisahan, yang jika tidak ditangani akan berkembang menjadi hopitensi.

Saat hipoksia memburuk, tanda-tanda vital pasien, toleransi aktivitas, dan tingkat kesadaran akan menurun. Tanda-tanda akhir hipoksia termasuk perubahan warna kebiruan pada kulit dan selaput lendir, di mana vasokonstriksi pembuluh darah tepi atau penurunan hemoglobin menyebabkan sianosis.

Beberapa gejala happy hypoxia antara lain:

  • Kegelisahan atau kecemasan: Ini merupakan tanda awal hypoxia.
  • Perubahan status mental atau kehilangan kesadaran: ini adalah tanda hypoxia yang memburuk dan terlambat ditangani.
  • Takipnea: peningkatan laju pernapasan merupakan indikasi gangguan pernapasan.
  • Sesak napas (Dyspnea Shortness of breath / SOB) merupakan indikasi gangguan pernapasan.
  • Pernapasan bising: bunyi napas yang terdengar, atau mengi dan berderak, merupakan indikasi kondisi pernapasan.
  • Penggunaan otot aksesori: penggunaan otot leher atau interkostal saat bernapas merupakan indikasi gangguan pernapasan.
  • Penurunan tingkat saturasi oksigen: tingkat saturasi oksigen harus antara 92% dan 98% untuk orang dewasa tanpa penyakit pernapasan yang mendasari. Lebih rendah dari 92% dianggap hipoksia.
  • Warna kulit pasien: perubahan warna kulit menjadi kebiruan atau abu-abu merupakan tanda akhir hypoxia.
  • Lubang hidung melebar atau mengerucutkan bibir: pasien hipoksia mungkin bernapas dengan cara yang berbeda, yang mungkin menandakan perlunya oksigen tambahan.
  • Kemampuan pasien untuk berbicara dalam kalimat lengkap: pasien dengan gangguan pernapasan mungkin tidak dapat berbicara dalam kalimat lengkap, atau mungkin perlu mengatur napas di antara kalimat.

Happy Hypoxia ini terjadi pada pasien Covid-19 di Banyumas, Jawa Tengah. Pasien mengalami gejala happy hypoxia dan berakhir meninggal dunia.